Buku ini adalah terjemah dari kitab Hadits Shahih Muslim. Buku ini memulai hadisnya dari bagian 23 tentang Salat Jumat hingga bagian 43 tentang Penyelenggaraan Mayat
Buku ini berupaya merekonstruksi perjalanan historis Al-Qur'an yang diharapkan dapat bertahan terhadap kritik sejarah sekaligus bisa berhadapan dengan berbagai prasangka "ilmiah" Barat. Masalah-masalah utama dalam pewahyuan Al-Qur'an serta pengumpulan dan stabilisasi teksnya menjadi fokus kajian dalam buku ini.
Melalui buku ini, penulis telah melakukan terobosan revolusioner lewat teknik mengingat efektif yang ia terapkan dalam menghafal Al-Qur'an. Penulis juga mampu menunjukkan jalan kepada kita untuk menghilangkan alasan-alasan yang acapkali muncul ketika kita berusaha menghafal Kitabullah yang begitu besar ganjarannya.
Buku yang langka dan istimewa. Mengungkap tuntas petunjuk praktis dan aplikatif dalam menghafal Al-Qur'an. Pembaca diajak menelusuri pengalaman pribadi penulis dalam menempuh samudera menghafal Al-Qur'an, menjadikan buku ini lebih dekat dan lebih mudah dipahami. Setelah membacanya, hafal Al-Qur'an 30 juz tidak lagi sesuatu yang tak terjangkau.
Apakah mungkin menghafal Al-Qur'an di sela-sela kesibukan kantor, kuliah, kerja, dan beragam aktivitas menyibukkan lainnya? Kesibukan sering kali menjadi alasan terhalangnya seseorang untuk menjadi salah satu barisan para penghafal Al-Qur'an. Tapi, sebenarnya bisa kok buat menghafal walau sibuk. Dengan metode yang tepat, menghafal pun bisa dilakukan.
Buku ini berkeinginan mengajak para pembacanya untuk hidup bersama Al-Qur'an atau berperilaku dalam naungan cahaya (nur) Allah Swt. Keunikan buku ini terletak di antara keistimewaan buku Lentera Hati dan Wawasan Al-Qur'an. Topik-topiknya dikembangkan lebih dalam dan luas dan gaya penulisannya disajikan secara mengalir dan enak.
Kekukuhan Al-Qur'an di hadapan kesombongan manusia merupakan bukti kemukjizatannya dan bahwa ia memang benar-benar kalam Ilahi, Zat Penguasa alam semesta. Kemukjizatannya itu terlihat dari berbagai sisi. Mulai dari sisi bayan, dakwah, pendidikan, syariat, dan ilmu pengetahuan.
Dunia Islam menemukan pencerahan kembali, sejak lahirnya Hujjatul Islam, seorang mujaddid sekaligus mujtahid. Dialah Abu Hamid Al-Ghazali. Karya ini, bukan sekedar karya ilmiah yang dikonsumsi untuk kepentingan akademis Islam saja, tetapi lebih merupakan buku pengantar bagi setiap Muslim yang ingin meraih kebahagiaan hakiki, di dunia hingga akhirat.
Buku ini mengungkapkan lebih dari tiga puluh topik menarik yang dibahas melalui perspektif Al-Qur'an oleh mufasir ternama Indonesia ini. Dengan menggunakan metode tafsir maudhu'i, sang mufasir memilih topik tertentu kemudian menghimpun ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan topik tersebut.
Kebanyakan Muslim memiliki hubungan yang akrab dan emosional dengan Alquran. Mereka mulai belajaran Alquran sejak di pangkuan sang ibu. Mengaji dengan penuh kedisiplinan. Namun, hubungan itu kerap menjadi rumit kala seseorang hendak beranjak memahami makna, lebih dari sekadar mengaji kalimat-kalimat Kitab Suci.