Melalui empat cerita Sepotong Kisah di Balik 98 pilihan Erisca Febriani ini, kita diajak kembali ke momen krusial di tahun 98. eempat cerita ini bukan hanya tentang sejarah, tetapi tentang manusia, perjuangan, dan harapan yang terjalin di dalamnya.
Tidak ada yang baik-baik saja dengan kehilangan. Ibu pernah berkata kepadaku. "Kita tak bisa menghalangi apa pun. Namun, nasihat itu tidak bisa menenangkanku saat mengetahui Ibu tidak lagi ada di rumah. Ia pergi tanpa pamit di sebuah pagi buta, meninggalkan secarik kertas berpesankan untuk jangan mencarinya. Sepi. Tanpa janji untuk kembali dan atau petunjuk ke mana ia pergi.
Mari kita buka apa isi kaleng Khong Guan ini: biskuit peyek keripik ampiang atau renginang? Simsalabim. Buka! Isinya ternyata ponsel kartu ATM tiket voucher obat jimat dan kepingan-kepingan rindu yang sudah membatu.
Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya…
Seorang lelaki muda penyendiri yang bekerja sebagai tukang pos divonis mengidap kanker stadium akhir. Umurnya tinggal sebentar lagi. Dalam kekalutan, datang tawaran menggiurkan untuk melakukan perjanjian dengan Iblis agar hidupnya terselamatkan. Syaratnya: Setiap hari dia harus bersedia menghilangkan sebuah benda yang dia sayangi dari dunia ini. Jika kamu yang berada di posisi dia, maukah kam…
Seorang kenalan ingin membeli rumah seken di Tokyo dan memperlihatkan denah rumahnya padaku arena merasa ada yang ganjil. Sekilas, rumah ini kelihatan seperti rumah-rumah lain pada umumnya dengan interior yang luas dan terang. Namun, ketika mencermatinya baik-baik, aku mendapati bahwa memang ada keanehan di sana-sini. keanehan demi keanehan itu bertumpuk, kemudian terjalin membentuk satu "keny…
Saat bertemu dewasa, ada yang berkali-kali dihantam ombak realita. Limbung sekoci kecil itu di tengah luas samudra. Saat bertemu dewasa, ada juga yang mulai mengarungi samudra bernama rumah tangga. Bersama membangun bahtera menuju Surga, ternyata tak seindah kisah Cinderella. Namun, Allah mempertemukan kita dengan dewasa, tak hendak membuat kita lemah lalu meredakan segala juang idealisme men…