Wahai ayahanda, pulanglah. Anak-anakmu paham kalau engkau sibuk berjuang di luar sana untuk masa depan mereka. Maka, jangan cemas, karena engkau pulang bukan untuk bekerja, bukan untuk kembali sibuk membanting tulang. Engkau diminta pulang hanya untuk bertanggung jawab, Karena engkau selamanya adalah pemimpin. Kepulanganmu dinanti untuk menjadi kepala sekolah, bukan guru... Untuk menjadi arsit…